Ulasan Film Layar Lebar Eschelon Conspiracy

Film ini menduduki puncak ulasan kritikus yang telah saya baca sejauh ini. Pembukaannya sangat menegangkan dan membuat penonton tertarik untuk terus lanjut menonton. Film yang sangat mirip dengan film Eagle Eye yang rilis sebelumnya ini, pasti membuat semua orang berkata: “Film ini pasti jauh lebih baik lagi…” Tetapi tampaknya kali ini penonton harus kecewa.

Film ini pada dasarnya berkisah tentang era internet yang telah memasuki fase paranoia baru. Di mana masyarakat menyerahkan dirinya kepada sebuah teknologi super komputer yang serba tahu dan menyeramkan.

Masalahnya adalah, sebagian besar thriller dalam film ini ini tampaknya ditulis oleh orang yang tidak tahu apa-apa tentang komputer. Penulis naskah bahkan tak mampu mengungkapkan potensi yang lebih akut tentang bahaya keterhubungan.

Hal yang paling mengusik adalah ponsel HAL 9000 yang dapat melakukan berbagai hal diluar kemampuannya.

Penggabungan semua data jaringan menjadi semacam “mata elang” yang maha tahu bukanlah ide yang buruk untuk menakuti para pengguna smartphone teknofobia. Tetapi tidak seperti yang digambarkan dalam film ini. Teori konspirasi dalam Echelon Conspiracy tidak cukup meyakinkan penonton.

Prolog: Ponsel yang Bekerja Seperti Sihir

slot online

Setelah prolog di mana sebuah ponsel mutakhir (pada jamannya) menuntun seorang wanita ke kematiannya melalui pesan teks, perangkat tersebut berakhir di tangan Peterson, seorang ahli komputer yang berspesialisasi dalam enkripsi keamanan.

Pada awalnya, ponsel itu bekerja seperti sihir. West mendapat informasi dari dalam tentang kapan pesawat akan jatuh, kapan saham akan meroket, dan kapan harus memasukkan semua chipnya ke meja blackjack dan mesin slot judi.

Tapi ponsel itu adalah perangkat jahat yang sangat didambakan banyak pihak. Ponsel tersebut akhirnya membawa Peterson ke pertikaian dengan Badan Keamanan Nasional, yang bekerja untuk memanfaatkan semua perangkat jaringan menjadi program mata-mata yang lebih invasif daripada yang bisa dibayangkan oleh Patriot Act.

Salah satu kekuatan film ini yang menjadi kait ke penonton hilang ketika sang pemeran utama berhenti menggunakan ponselnya sebagai jin pribadinya di dalam botol. Echelon Conspiracy kehilangan kait tersebut dan mencoba beralih ke thriller internasional seperti Bourne Identity.

Namun sayang, adegan pengejaran dan baku tembak dalam film ini berakhir agak konyol.

Plot: Dari Awal Sampai Akhir

Echelon Conspiracy adalah judul yang menggugah. Sekali lagi, Hollywood menunjukkan ketidaktahuan yang terang-terangan akan kemampuan komputer modern. Dengan menyediakan plot khayalan sebuah “mesin Tuhan” yang tampaknya memiliki kemampuan tak terbatas, kecuali jika menyangkut hal-hal sederhana.

Alur cerita film ini bergantung pada penemuan yang terlalu dibesar-besarkan dan keadaan yang sangat tidak masuk akal. Sehingga sangat tidak mungkin untuk menganggap serius film ini.

Namun sutradara Greg Marcks dan penulis naskahnya tampaknya berharap tak seorang pun di antara penonton akan meluangkan waktu sejenak untuk memikirkan tentang betapa konyolnya “teori konspirasi” mereka.

Film karya Marcks ini tidak jauh berbeda dengan film sains fiksi low budget lainnya. Masih berhubungan dengan sebuah super komputer yang melakukan kesalahan yang menggelikan dan merepotkan negara.

Film ini berawal ketika sang pemeran utama, menerima sebuah paket berisi ponsel. Ternyata sebuah super komputer dari project echelon milik pemerintah telah mengontrol ponsel itu.

Awalnya Peterson tak menyangka dirinya menemukan sumber keberuntungan tersebut. Ponsel itu awalnya selalu menjadi petunjuk menguntungkan bagi dirinya. Mulai dari pesan untuk menunda penerbangan, yang ternyata kemudian pesawat tersebut jatuh. Hingga sebuah petunjuk di kasino ternama yang membuatnya memenangkan banyak uang dari game judi slot online.

Namun itu semua merupakan tipuan dan modus dari super komputer Echelon.

Pada akhirnya super komputer ini justru membunuh semua korbannya. Kabar buruk datang ketika Echelon diketahui akan berpindah sistem dan di-upgrade ke sebuah database server. Beruntung sang pemeran utama berhasil menghentikan hal itu.

Karakter: Lemah dan Hambar, Tidak Banyak Yang Menonjol

Max Peterson (diperankan oleh Shane West) adalah seorang ahli keamanan komputer yang jasanya dalam membuat perangkat lunak perlindungan kata sandi diinginkan di seluruh dunia. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di Thailand, ia menerima hadiah misterius berupa ponsel canggih dari pengagum tanpa nama. Pesan teks dari “tidak dikenal” mulai bermunculan.

Yang pertama menyarankan dia untuk mengganti penerbangan pulang. Dia melakukannya, dan pesawat yang seharusnya dia jatuhkan. Kemudian disarankan agar dia membeli saham tertentu yang kemudian harganya meroket lebih dari 300%. Pesan teks selanjutnya kemudian mengirim Max ke kasino di Republik Ceko dan merekomendasikan mesin slot online dan meja blackjack di mana kemenangan dengan mudah didapatkannya.

Sayangnya, keberuntungan Max menarik perhatian kepala keamanan kasino, John Reed (Edward Burns), serta agen FBI Dave Grant (Ving Rhames). Semua orang ingin tahu siapa yang mengirim pesan teks dan apa yang akan mereka perintahkan kepada Max selanjutnya.

Film ini Tidak Cukup Konyol untuk Membunuh Kebosanan

Sungguh mengherankan berapa banyak wajah bintang ternama yang dapat dikenali dalam film ini. Meskipun peran utama dimainkan oleh Shane West yang relatif anonim, yang kadang-kadang tampaknya menyalurkan aura Neil Patrick Harris. Namun hampir semua pemeran lainnya memiliki semacam resume.

Sebut saja Ed Burns. Kemampuannya untuk menjaga wajahnya tetap lurus tanpa ekspresi sangat mengagumkan, mengingat beberapa dialog “nyeleneh” yang dibebankan kepadanya. Mungkin saya memberinya terlalu banyak pujian, karena baik ekspresi maupun nada bicara Ed tidak berubah sedikit pun selama keseluruhan film.

Lalu ada juga, Ving Rhames, yang sekali lagi terjebak memainkan peran sebagai pria tangguh-dengan-hati-emas. Kemudian ada Jonathan Pryce memerankan seorang miliarder misterius yang bekerja di belakang layar. Hanya Martin Sheen yang mencoba sesuatu yang sedikit berbeda, bermain melawan tipe sebagai kepala NSA yang hawkish, di mana dia bisa melakukan sedikit lebih baik.

Seorang aktris bernama Tamara Feldman siap memberikan sedikit eye candy. Namun, karena Echelon Conspiracy memiliki peringkat PG-13, adegan panas yang diperankan Tamara tidak semenyenangkan yang seharusnya.


Beberapa Teknologi Mutakhir Dalam Film ini

Berikut ini sedikit ulasan mengenai teknologi masa kini yang ada pada film tersebut.

1. Spy Phone (Ponsel Pengintai)

Awalnya sang pemeran utama, Peterson, merasa beruntung menerima sebuah paket yang ternyata berisi sebuah ponsel canggih dan keren (pada masanya). Ponsel inilah yang kemudian menjadi perantara antara dirinya dan Echelon. Ponsel ini digunakan oleh super komputer itu untuk memata-matai Peterson. Melalui ponsel tersebut dan bantuan cctv yang tersebar di berbagai tempat, Echelon bisa mengetahui semua aktivitas kegiatan Peterson.

2. Face Detector (Pendeteksi Wajah)

Teknologi ini diterapkan di kasino yang berhasil dibobol oleh super komputer Echelon dengan bantuan Peterson. Teknologi face recognition ini membantu komputer mendeteksi segala hal tentang seseorang hanya dengan melalui scanner sebuah foto wajah. Hal ini membuat pihak pengelola judi kasino untuk segera melacak keberadaan Peterson.

3. Wireless Headphone

Teknologi ini sudah tidak asing lagi buat kita. Headphone nirkabel ini mmungkinkan Peterson untuk berbicara tanpa menggenggam ponsel-nya karena terhubung melalui koneksi bluetooth.

4. Komputer Database Server

Komputer server ukuran sangat besar ini pada dasarnya merupakan sebuah database server yang di dalamnya diberikan enkripsi BIOS digital. Peterson menamakannya Bios Level. Komputer inilah yang diinginkan oleh Echelon. Tujuannya untuk bermigrasi dari tempatnya semula di Pentagon. Sekaligus meng-upgrade sistem operasinya.

Penutup

Apakah masyarakat kita saat ini terlalu bergantung pada ponsel dan komputer? Mungkin.

Sayangnya film yang menggabungkan teknofobia dengan rasa ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan paranoia umum tentang konspirasi adanya organisasi rahasia ini tak berhasil menggabungkan semua unsur thriller tersebut.

Hasilnya hanya beberapa adegan pengejaran dan baku tembak kurang menarik yang diperankan oleh aktor level-B.

Apakah sebuah film action thriller yang seru dan kredibel dapat dibangun di semua unsur teori konspirasi ini? Tentu saja, tidak diragukan lagi. Tetapi Echelon Conspiracy tak berhasil membangun semua itu.

Ending klasik

Konsep kesadaran diri (artificial inteligence) komputer adalah subjek yang kaya dan beragam yang telah menjadi tulang punggung cerita fiksi ilmiah yang tak terhitung jumlahnya.

Apakah masyarakat kita saat ini terlalu bergantung pada ponsel dan komputer? Mungkin.

Sayangnya film yang menggabungkan teknofobia dengan rasa ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan paranoia umum tentang konspirasi adanya organisasi rahasia ini tak berhasil menggabungkan semua unsur thriller tersebut.

Hasilnya hanya beberapa adegan pengejaran dan baku tembak kurang menarik yang diperankan oleh aktor level-B.

Apakah sebuah film action thriller yang seru dan kredibel dapat dibangun di sekitar ketergantungan ini? Tentu saja, tidak diragukan lagi, tapi Echelon Conspiracy tak berhasil membangun semua itu.

Meskipun masuk akal untuk menerima tingkat tertentu dari “membodohi” konsep-konsep kompleks dalam layanan cerita yang menghibur. Hanya sedikit hal menarik tentang film ini yang dapat ditonton secara menyenangkan. Bahkan aksinya sudah usang dan membosankan.

Mungkin teka-teki terbesar yang tak pernah terjawab oleh film ini adalah bahwa jika pemerintah dipenuhi oleh para orang-orang yang tak kompeten, bagaimana sebuah super Computer yang bertindak seperti tuhan bisa muncul?

Penilaian Akhir:

Sebagian besar alur film ini disebutkan sangat hambar. Cobalah untuk melakukan aktifitas lain sambil menontonnya!

Baca juga: Rekomendasi Film Judi yang bisa ditonton selama PSBB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *